Analisis Distribusi Spasial Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Cisurupan Tahun 2024
Abstract
Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang mengalami peningkatan signifikan baik secara global maupun nasional, termasuk di Indonesia. Pada tahun 2024, lebih dari 14 juta kasus dengue dilaporkan secara global, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah pencatatan WHO. Wilayah kerja Puskesmas Cisurupan juga mengalami peningkatan kasus dengan distribusi yang bervariasi antar desa. Kondisi ini menuntut adanya analisis spasial untuk mengidentifikasi daerah berisiko tinggi dan mendukung pengambilan keputusan berbasis wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi spasial kejadian DBD tahun 2024 menggunakan Period Prevalence Rate (PPR) dan pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG).
Metode: Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder dari laporan LB1 DBD, data jumlah penduduk per desa, serta data koordinat spasial yang diverifikasi. Sebanyak 102 kasus DBD yang terjadi sepanjang tahun 2024 dianalisis, dihitung nilai PPR-nya, dan dipetakan menggunakan perangkat lunak SIG untuk mengidentifikasi pola distribusi kasus antar desa.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi spasial yang signifikan antarwilayah. Desa Cisurupan, Balewangi, dan Cidatar memiliki jumlah kasus dan nilai PPR tertinggi, sedangkan desa seperti Sukawargi, Sirnagalih, dan Cinta Asih menunjukkan tingkat risiko lebih rendah. Pemetaan spasial memperlihatkan kluster risiko tinggi pada wilayah dengan kepadatan penduduk lebih besar dan kondisi lingkungan yang berpotensi mendukung perkembangbiakan vektor.
Saran: Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan spasial penting dalam mendukung strategi pengendalian DBD. Diperlukan penguatan surveilans berbasis SIG, peningkatan intervensi lingkungan, serta edukasi masyarakat terutama pada desa dengan PPR tinggi. Studi lanjutan dapat mengeksplorasi faktor lingkungan dan sosial yang memengaruhi terbentuknya kluster kasus, sehingga upaya pengendalian dapat lebih efektif dan tepat sasaran.
References
Cofone, L., Sabato, M., Di Paolo, C., Di Giovanni, S., Donato, M. A., & Paglione, L. (2025). Urban, architectural, and socioeconomic factors contributing to the concentration of potential arbovirus vectors and arbovirosis in urban environments from a One Health perspective: A systematic review. Sustainability, 17(9), 4077. https://doi.org/10.3390/su17094077
Fikri, E., Witsqa Firmansyah, Y., Fadli Ramadhansyah, M., Husna, R., Widyantoro, W., Yayank Lewinsca, M., ... & Dwi Mahendra, P. (2021). Analysis autocorrelation spatial diarrhea, typhoid and leptospirosis on the East Flood Canal, Semarang City: Moran Index method. Jurnal Aisyah: Jurnal Ilmu Kesehatan, 6(4), 747–752. https://doi.org/10.30604/jika.v6i4.734
Firmansyah, Y. W., Parulian, A. A., Kristiawan, H., & Prasaja, B. J. (2024). Occurrences of dengue fever, dengue hemorrhagic fever, dengue shock syndrome, severe dengue, and dengue warning signs in Bandung City: A spatial study based on Moran Index. Lontara Journal of Health Science and Technology, 5(2), 154–170. https://doi.org/10.53861/lontarariset.v5i2.495
Haider, N., Hasan, M. N., Onyango, J., Billah, M., Khan, S., Papakonstantinou, D., ... & Asaduzzaman, M. (2025). Global dengue epidemic worsens with record 14 million cases and 9,000 deaths reported in 2024. International Journal of Infectious Diseases, 107, 940. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2025.107940
Iryanto, A. A., Firmansyah, Y. W., Widyantoro, W., & Zolanda, A. (2022). Spatial patterns of environmental sanitation factors as determinants of toddlers’ diarrhea in Pauh District, Padang City in 2021. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 14(2), 71–81. https://doi.org/10.20473/jkl.v14i2.2022.71-81
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/Profil-Kesehatan-indonesia-2019.pdf
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021, January 20). Hingga Juli, kasus DBD di Indonesia capai 71 ribu. Sehat Negeriku. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20200709/3134413/hingga-juli-kasus-dbd-indonesia-capai-71-ribu/
Leowattana, W., & Leowattana, T. (2021). Dengue hemorrhagic fever and the liver. World Journal of Hepatology, 13(12), 1968–1982. https://doi.org/10.4254/wjh.v13.i12.1968
Moghadam, Z., Avarki, B., Parvizi, Z. F., Rabiee, P., & Bahrami, S. (2025). Aedes mosquito and dengue fever: A dangerous connection in global health. International Journal of Travel Medicine & Global Health, 13(3). https://doi.org/10.30491/ijtmgh.2024.487943.1441
Nakhaie, M., Shahpar, A., Rezaei Zadeh Rukerd, M., Farsiu, N., Charostad, J., Bashash, D., ... & AbuBakar, S. (2026). Dengue fever: Viral, environmental, and human factors driving expansion and pandemic risk. Reviews in Medical Virology, 36(1), e70088. https://doi.org/10.1002/rmv.70088
Rosmaini, R., & Setiawati, E. (2024). Pathogenesis, symptoms, diagnosis, and prevention of dengue hemorrhagic fever in adults. Oshada, 1(3), 1–9. https://doi.org/10.62872/s0z09w04
Setiawan, A. F., Wajib, Y. Y. P., Handono, K., & Sakti, S. P. (2023). Leucocytes, thrombocytes, and immature platelets in patients with dengue hemorrhagic fever. Bali Medical Journal, 12(2), 2067–2069. https://doi.org/10.15562/bmj.v12i2.4613
Trivedi, S., & Chakravarty, A. (2022). Neurological complications of dengue fever. Current Neurology and Neuroscience Reports, 22(8), 515–529. https://doi.org/10.1007/s11910-022-01213-7.
Keywords
Demam berdarah dengue, Period prevalence rate, Pemetaan spasial, Sistem informasi geografis, Cisurupan



